Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit

Pelayanan yang diberikan oleh suatu rumah sakit dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu pelayanan utama dan pelayanan pendukung. Pelayanan utama terdiri atas pelayanan medik, pelayanan keperawatan, dan pelayanan kefarmasian. Pelayanan utama tidak mampu melaksanakan fungsinya tanpa pelayanan pendukung tersebut.

1. Pelayanan Medik atau Keperawatan

Pelayanan medik dilakukan oleh berbagai staf medik fungsional sesuai dengan jenis dan status penyakit penderita tertentu. Staf medik fungsional pada umumnya terdiri dari :

  • Dokter umum dan dokter gigi
  • Dokter spesialis dan subspesialis dari disiplin (Siregar, 2004).

2. Pelayanan IFRS

Rumah sakit dapat dianggap sebagai kota dalam kota. Salah satu fasilitas yang terdapat di rumah sakit adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). Walaupun demikian, Instalasi Farmasi Rumah Sakit merupakan salah satu dari banyaknya bagian atau divisi dari rumah sakit. IFRS mempunyai pengaruh yang sangat penting pada perkembangan profesional rumah sakit dan juga terhadap ekonomi serta biaya operasional total rumah sakit. Hal tersebut disebabkan karena adanya hubungan timbal balik dengan/dan saling tergantungnya pelayanan-pelayanan lain pada IFRS.

Instalasi farmasi rumah sakit adalah satu-satunya bagian/divisi di rumah sakit yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan dan pengendalian seluruh sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan lain yang beredar dan digunakan di rumah sakit. Mulai dari perencanaan, pemilihan, penetapan spesifikasi, pengadaan, pengendalian mutu, penyimpanan serta dispensing, distribusi obat bagi penderita, pemantauan efek, pemberian informasi dan sebagainya, semuanya adalah tugas, fungsi serta tanggung jawab Instalasi Farmasi Rumah Sakit (Siregar, 2004).

3. Pelayanan Pendukung

Pelayanan pendukung di rumah sakit adalah semua pelayanan yang mendukung pelayanan medik untuk penegakan diagnosis dan perawatan penderita. Pelayanan pendukung rumah sakit dapat berupa pelayanan laboratorium, pelayanan ahli gizi dan makanan, pelayanan rekam medic, bank darah, pe,eriksaan sinar-X, dan layanan sosial (Siregar, 2004).

Tanggung Jawab Profesional Apoteker Dalam Pelayanan Penderita Di Rumah Sakit

Tanggung Jawab Profesional Apoteker Dalam Pelayanan Penderita Di Rumah Sakit
Tanggung Jawab Profesional Apoteker Dalam Pelayanan Penderita Di Rumah Sakit

Pendahuluan

Untuk melaksanakan tanggung jawab professional apotek dalam pelayanan farmasi di rumah sakit wajib menerapkan empat unsure dari pelayanan farmasi yaitu :

  1. Pelayanan farmasi yang baik
  2. Pelayanan profesi apoteker dalam proses penggunaan obat
  3. Praktek dispensing yang baik
  4. Pelayanan professional apoteker yang proaktif dalam berbagai kegiatan dan kepanitiaan yang bertujuan untuk peningkatan mutu pelayanan kepada penderita

Pelayanan Farmasi Yang Baik

Salah satu misi dari praktek farmasi adalah menyediakan obat-obatan, produk perawatan kesehatan lainnya, memberikan pelayanan serta membantu penderita dan masyarakat, dan mengupayakan yang terbaik. Istilah “pharmaceutical care” telah ditetapkan suatu filosofi praktik, dengan penderita dan masyarakat sebagai pewaris utama dari kepedulian apoteker. Praktik farmasi yang baik adalah penetapan “Pharmaceutical Care”

Persyaratan Pelayanan Farmasi yang Baik (PFB)

Beberapa persyaratan PFB yang dirumuskan oleh WHO sebagai berikut :

  1. Apoteker harus mensejahterakan/keselamatan penderita di rumah sakit
  2. Penyediaan obat-obatan dan produk perawatan kesehatan lainnya dengan mutu terjamin
  3. Penyempurnaan penulisan resep yang rasional dan ekonomis
  4. Relavam dengan individu

Pemenuhan Persyaratan PFB


  1. Berbagai faktir professional
  2. Harus ada masukan dari apoteker
  3. Hubungan tenaga kesehatan lain
  4. Perlu ada apoteker lain sebagai sejawat
  5. Pimpinan IFRS harus menerima tanggung jawab
  6. Apoteker harus mengetahui obat yang diperlukan
  7. Apoteker membutuhkan informasi yang independen
  8. Apoteker harus menerima tanggaung jawab pribadi
  9. Profesi apoteker harus diarahkan 
  10. Menetapkan standar nasional untuk praktik farmasi

Persyaratan dalam praktik

Unsur utama PFB

  1. Meningkatkan kesehatan yang baik
  2. Persediaan dan perlengkapan obat
  3. Perawatan diri sendiri
  4. Pengaruh penulisan resep dan penggunaan obat

Unsur tambahan PFB

  1. Mengadakan peraturan dengan masyarakat professional
  2. Professional terhadap materi promosi
  3. Penyebaran informasi
  4. Keterlibatan dalam semua tahap Percobaan klinik

Standar untuk unsure-unsur utama PFB

Standar yang mencakup proses dan fasilitas yang diperlukan perlu ditetapkan dan diajukan kepada profesi

  • Peningkatan kesehatan dan pencegahan kesakitan
  • Penyediaan dan penggunaan obat dan produk perawatan kesehatan lainnya
  • Perawatan diri sendiri
  • Mempengaruhi penulisan resep dan penggunaan obat

Dokumentasi Penelitia Dan Praktik

Apoteker mempunyai tanggung jawab professional untuk mendokumentasikan pengalaman dan kegiatan praktik professional dan melakukan penelitian farmasi dan penelitian terapi

Pelayanan Profesi Apoteker Yang Baik Dalam Proses Penggunaan Obat

Suatu istem yang sangat rumit yang terdiri atas berbagai tahap, yang harus diselesikan untuk mencapai terapi obat yang optimal:

  • Melindungi penderita
  • Mendeqeksi dan memperbaiki ketidaktepatanyang diberikan
  • Mencegah toksisitas obat
  • Mengingatkan kepatuhanpenderita

Apoteker harus terlibat dalam proses penggunaan obat dalam sistem perawatan kesehatan di rumah sakit. Penulisan resep bukanlah permulaan atau akhir dari proses penggunaan oba.

Identifikasi Masalah Penderita

Dapat berupa penyalkit atau kesakitan nyata ataukesakitan yang mungkin. Diagnosis seorang penderita dapat relatif ederhana atau sangat rumit. Pengobatan yang rasional dari suatu penyakit jelas tergantung pada identifikasi yang tepat.

Penulisan Resep

Dokter mulai merencanakan menulis resep obat bagi penderita. Apoteker perlu berpartisipasi dalam proses pemuatan keputusan tersebut

Dispensing Obat

Proses untuk memastikan kelayakan resep obat, seleksi zat aktif obat yang memadai dan memastikan bahwa penderita atau perawat mengerti penggunaan obat tersebut.

Pemantauan Terapi Obat

Respon penderita berkaitan dengan titik akhir terapi yang ditetapkan pada awalnya, harus sering diases, dan bukti merugika harus diselidiki secara berkala. Terapi obat dipantau untuk kefektifan, ketidakefektifan dan membuat kesimpulan, mempertahankan atau modifikasi atau menghentikan regimen obat tersebut.

Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)

Suatu proses jaminan mutu yang sah secara organisai, tersruktur, dan terus-meneus, untuk memastikan bahwa obat digunakan secara tepat, aman, dan efektif.apoteker harus bekerjasama dengan staf medic lain untuk melaksanakan EPO.


Praktek Dispensing Yang Baik

Dispensing obat adalah proses yang mencakup berbagai macam kegiatan, yang dilakukan oleh seorang apoteker serta salah satu unsure vital penggunaan obatsecara rasional. Anggapan biasa bahwa dispensing merupakan proses rutin dan sederhana, yang tidak boleh salah. Praktek dispensing yang baik adalah suatu proses praktik yang memastikan bahwa suatu bentuk yang efektif dari obat yang benar dihantarkan kepada penderita dengan benar.

Lingkungan Dispensing

Harus bersih karena kebanyakan obat dikonsumsi secara internal. Lingukungan medis termasuk staf, sekeliling fasilitas fisik, rak, dan ruangan penyimpanan, ruang peracikan, permukaan yang digunakan selama kerja, peralatan dan bahan pengemas. Selain itu suatu sistem peraturan persediaan harus ditetapkan berbasis obat yang digunakan terlebih dahulu, yaitu sistem FIFO dan FEFO. Rentang terbatas dari berbagai persediaan yang akan digunakan dengan frekuensi terbesar dan berbagai persediaan yang bergerak cepat ini (fast Movers) dapat ditempatkan dalam daerah yang mudahdicapai oleh personil dispensing untuk kenyamanan dan efisiensi.

Personil Dispensing


  1. Pengetahuan tentang obat
  2. Ketrampilan kalkulasi dan aritmatik yang baik
  3. Ketrampilan dalam mengases mutu sediaan
  4. Bersifat bersih teliti, dan jujur
  5. Komunikasi yang efektif

Proses Dispensing

Penggunaan yang konsisten dan berulang dari produser dispensing yang baik adalah vital dalam memastikan memastikan kesalahan diketahui dan diperbaiki pada semua tahapdari proses dispensing.
Tahap kegiatan utama dala dispensing antara lain :

  • Menerima dan memvalidasi resep
  • Mengkaji resep untuk kelengkapan
  • Mengerti dan Menginterpretasi resep
  • Menapis profil pengobatan penderita
  • Menyiapkan, membuat, atau meracik sediaan obat
    • Memilih wadah obat persediaan
    • Formulasi (menghitung, mengukur, menuang, mambuat)
    • Pemberian etiket
  • Menyampaikan obat kepada penderita
    • Kapan obat digunakan
    • Cara penggunaan
    • Cara menyimpan
    • Peringatan tentang efek samping


Pelayann Professional Apoteker Yang Proaktif Dalam Berbagai Kegiatan Dan Kepanitiaan Di Rumah Sakit

Bertujuan untuk peningkatan mutu pelayanan penderita. Berorientasi pada penderita dan berkaitan dengan obat, apoteker harus berpartisipasi aktif, peran apoteker antara lain dalam : PFT, Panitia Sistem Pemantauan Kesalahan Obat. Apoteker rumah sakit wajib memahami dan menerapkan keempat unsure utama dan pelayanan farmasi yang telah diuraikan di atas agar apoteker dan IFRS-nya mendapat pengakuan keberadaan dan kebutuhan bagi rumah sakit dan terutama bagi penderita dan masyarakat.

Tulisan ini saya ringkas dari buku Ilmu Farmasi Rumah Sakit.
Selamat belajar, semoga bermanfaat 

Konsep Dasar Toksikologi


Toksikologi merupakan studi mengenai efek yang merugikan dari agen fisik dan kimia pada organisme makhluk hidup. Ilmu ini adalah multidisiplin yang mencakup banyak bidang keahlian ilmiah, termasuk biologi, biokimia, kimia, patologi, dan fisiologi. Toksikologi memberikan kontribusi untuk kedokteran klinis, hukum kedokteran, kedokteran kerja dan kebersihan, kedokteran hewan, patologi eksperimental, pengembangan kimia baru dan evaluasi keselamatan. Agen kimia dapat berupa alami atau sintetik. Bahan kimia sintetik dikategorikan ke dalam beberapa kelas-biasanya terkait dengan kegiatan atau termasuk paparan zat farmasi, bahan tambahan makanan, pestisida, bahan kimia industri, dan bahan kimia dalam negeri.

Bahan kimia alami meliputi berbagai zat yang biasanya ditemukan di lingkungan, seperti arsenik, timbal dan biologi berasal dari tumbuhan, hewan atau racun mikrobiologi . Contoh racun tanaman alkaloid pyrrolizidine dihasilkan dari berbagai spesies seperti komprei, glikosida jantung pada oleander dan morfin dalam tanaman opium. Contoh racun hewan adalah racun-racun yang dihasilkan oleh berbagai spesies hewan darat dan laut, seperti platypuses, ular, laba-laba, lebah dan ikan batu. Botulinum toksin dan enterotoksin stafilokokal adalah contoh dari racun mikroba, sedangkan aflatoksin adalah contoh dari racun jamur.

Agen fisik termasuk radiasi, panas, debu, getaran dan suara. Perbedaan antara toksisitas dan risiko.

Toksisitas (atau bahaya) adalah kemampuan yang melekat dari agen untuk menyebabkan kerusakan. Properti ini hanya akan berubah jika agen diubah dalam beberapa cara. Ini tidak akan berubah dengan perubahan kondisi penggunaan atau eksposur. Risiko merupakan suatu probabilitas yang terjadi pada paparan agen dalam kondisi tertentu akan dapat menyebabkan cedera atau bahaya. Risiko akan selalu bergantung pada toksisitas agen dan sifat dan tingkat eksposur. Sesuatu dari toksisitas rendah dapat berisiko tinggi jika dosis besar, dan sesuatu toksisitas yang tinggi dapat berisiko rendah jika dosisnya cukup kecil.

Pra-kondisi untuk efek toksik Untuk mengerahkan efek toksik, agen harus dapat mencapai jaringan rentan, organ, sel, atau kompartemen selular sub atau struktur dalam konsentrasi yang cukup pada waktu yang memadai pula. Artinya, suatu paparan atau dosis yang tepat diperlukan. Dosis kecil alkohol tidak akan ada pengaruhnya, tetapi dosis besar selama waktu yang lama dapat mempengaruhi organ rentan seperti hati dan akhirnya menyebabkan sirosis.

Dosis optimal dari parasetamol akan menghilangkan rasa sakit, tetapi dosis yang melebihi jumlah ini dapat menyebabkan kerusakan hati. Di sisi lain, jumlah yang jauh lebih rendah daripada dosis yang optimal tidak akan memberikan berpengaruh sama sekali. Exposure bisa dikatakan akut, kronis, sub akut dan sub kronis atau. Tingkatan akut mengacu pada eksposur tunggal, seperti overdosis obat kronis yang sementara berlaku paparan untuk eksposur yang berulang-ulang selama jangka waktu lama (lebih dari tiga bulan). Sub akut berlaku untuk paparan berulang (sampai satu bulan), dan kronis sub selama periode antara (yaitu, satu sampai tiga bulan).

Source : Langley, A., Di Marco, P., and Neville, G., 2006, Toxicology, Environmental Health in Australia and New Zealand, Edd. Cromar, N., Cameron, S.,& Fallowfield, H., Oxford University press, p.21-22.

Pengertian Fase Farmakokinetik


Fase Farmakokinetik adalah fase yang meliputi semua proses yang dilakukan tubuh setelah obat dilepas dari bentuk sediaan yang terdiri dari absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi.

Absorpsi Obat

Absorpsi atau penyerapan zat aktif adalah masuknya molekul-molekul obat kedalam tubuh atau menuju ke peredaran darah tubuh setelah melewati sawar biologik (Aiache, et al., 1993). Absorpsi obat adalah peran yang terpenting untuk akhirnya menentukan efektivitas obat (Joenoes, 2002). Agar suatu obat dapat mencapai tempat kerja di jaringan atau organ, obat tersebut harus melewati berbagai membran sel. Pada umumnya, membran sel mempunyai struktur lipoprotein yang bertindak sebagai membran lipid semipermeabel (Shargel and Yu, 1985). Sebelum obat diabsorpsi, terlebih dahulu obat itu larut dalam cairan biologis. Kelarutan serta cepat-lambatnya melarut menentukan banyaknya obat terabsorpsi. Dalam hal pemberian obat per oral, cairan biologis utama adalah cairan gastrointestinal, dari sini melalui membran biologis obat masuk ke peredaran sistemik. Disolusi obat didahului oleh pembebasan obat dari bentuk sediaannya. Secara ringkas proses biofarmasetik digambarkan dalam gambar 1 (Joenoes, 2002).

Obat yang terbebaskan dari bentuk sediaannya belum tentu diabsorpsi, jika obat tersebut terikat pada kulit atau mukosa disebut adsorpsi. Jika obat sampai tembus ke dalam kulit, tetapi belum masuk ke kapiler disebut penetrasi. Jika obat meresap/menembus dinding kapiler dan masuk ke dalam saluran darah disebut absorpsi (Joenoes, 2002).

Perpindahan obat dari suatu bentuk sediaan dosis oral ke dalam sirkulasi sistemik bisa dicapai dengan tiga langkah yaitu :
  1. Penghantaran obat pada tempat absorpsinya
  2. Obat dalam bentuk larutan
  3. Penembusan obat ke dalam sirkulasi sistemik (Syukri, 2002).

Absorpsi obat adalah langkah utama untuk disposisi obat dalam tubuh dari sistem LADME (Liberasi-Absorpsi-Distribusi-Metabolisme-Ekskresi). Bila pembebasan obat dari bentuk sediaannya (liberasi) sangat lamban, maka disolusi dan juga absorpsinya lama, sehingga dapat mempengaruhi efektivitas obat secara keseluruhan  (Joenoes, 2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat
  1. Ukuran partikel obat
    Kecepatan disolusi obat berbanding langsung dengan luas permukaan yang kontak dengan cairan/pelarut. Bertambah kecil partikel, bertambah luas permukaan total, bertambah mudah larut (Joenoes, 2002).
  2. Pengaruh daya larut obat
    Pengaruh daya larut obat/bahan aktif tergantung pada:- Sifat kimia: modifikasi kimiawi obat- Sifat fisik: modifikasi fisik obat- Prosedur dan teknik pembuatan obat- Formulasi bentuk sediaan/galenik dan penambahan eksipien (Joenoes, 2002).
  3. Beberapa faktor lain fisiko-kimia obat.\- Temperatur- pKa dan derajat ionisasi obat.

Distribusi Obat

Distribusi obat adalah proses-proses yang berhubungan dengan transfer senyawa obat dari satu lokasi ke lokasi lain di dalam tubuh. Distribusi merupakan perjalanan obat ke seluruhtubuh. Setelah senyawa obat memasuki sistem sirkulasi melalui absorpsi atau injeksi, senyawa tersebut akan didistribusikan ke seluruh tubuh.

Setelah melalui proses absorpsi, obat akan di distribusikan keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikakimianya. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel, terdistribusi kedalam sel, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel, sehingga distribusinya terbatas, terutama dicairan ekstra sel. Distribusi juga dibatasi oleh ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan.

Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat ( Kemampuan obat untuk mengikat reseptor) terhadap protein, kadar obat, dan kadar proteinnya sedikit.

Mekanisme Distribusi Obat
Obat setelah diabsorbsi akan tersebar melalui sirkulasi darah keseluruh badan. Dalam peredarannya, kebanyakan obat-obat di distribusikan melalui membrane badan dengan cara yang relative lebih mudah dan lebih cepat dibanding dengan eliminasi atau pengeluaran obat.

Distribusi adalah proses suatu obat yang secara reversible meninggalkan aliran darah dan masuk ke interstisium (cairan ekstrasel) dan/atau ke sel-sel jaringan. Pengiriman obat dariplasma ke interstinum terutama tergantung pada aliran darah, permeabilitas kapiler, derajat ikatan ion obat tersebut dengan protein plasma atau jaringan dan hidrofobisitas dari obat tersebut. distribusi meliputi transport (pengangkutan) molekul obat di dalam tubuh. Setiap kali obat disuntikan atau diabsorbsi ke dalam aliran darah, obat di bawa oleh darah dan cairan jaringan ke tempat aksi obat (aksi farmakologi), tempat metabolisme, dan tempat ekskresi. Kebanykan obat masuk dan meninggal aliran darah di tingkat kapiler, melewati celah antara sel yang membentuk dinding kapiler.Distribusi bergantung besarnya kecukupan sirkulasi darah. Obat di distribusikan cepat kepada organ yang menerima suplai darah dalam jumlah banyak seperti jantung, hati dan ginjal. Distribusi ke organ dalam lainnya seperti lemak otot, dan kulit biasanya lebih lambat. Sebuah faktor penting dalam distribusi obat adalah ikatan protein. Banyak obat membentuk ikatan komplek dengan plasma.

Protein utama adalah albumin yang bertindak sebagai pembawa obat. Molekul obat yang berikatan dengan protein plasma adalah farmakologi inaktif karena ukuran kompleknya (ikatan albumin+obat) yang besar, mencegah obat meninggalkan aliran darah melalui lubang kecil di dinding kapiler dan mencapai tempat aksi, metabolisme, dan ekskresi. Hanya bagian obat yang bebas atau tidak terikat yang dapat beraksi di dalam tubuh sel. Sebagai obat yang bebas obat beraksi di dalam sel, terjadi penurunan tingkat plasma obat karena beberapa ikatan obat terlepas.
Ikatan protein membolehkan bagian dari dosis obat  untuk disimpan dan dilepaskan jika dibutuhkan.Beberapa obat juga disimpan di jaringan otot, lemak, dan jaringan tubuh lainnya. dan dilepaskan sedikit-demi sedikit ketika tingkat plasma obat menurun. Mekanisme penyimpanan ini memelihara tingkat obat rendah didalam darah dan mengurangi resiko keracunan. Obat yang diikat kuat oleh plasma protein atau disimpan dalam jumlah besar di jaringan tubuh memiliki aksi obat yang panjang.

Distribusi obat ke dalam Sistem Saraf Pusat ( central nervous system) dibatasi karena terdapat sawar darah otak (blood–brain barrier), yang terdiri dari pembuluh darah kapiler dengan dinding tebal, membatasi pergerakan molekul obat masuk ke dalam jaringan otak. Sawar (penghalang) ini juga bertindak sebagai membran selektif permeabel yang menjaga Sistem Saraf Pusat (SSP). Namun hal ini juga menyebabkan terapi obat  untuk gangguan sisitem saraf sangat sulit diberikan karena harus melewati sel dari dinding kapiler dan lebih jarang antara sel. Sebagai hasilnya, hanya obat yang larut dalam lemak atau memiliki sistem transportasi yang dapat melewati sawar-darah otak dan mencapai kosentrasi terapeutik di dalam jaringan otak.

Distribusi obat selama kehamilan dan menyususi juga unik. Selama kehamilan, sebagian besar obat melewati plasenta dan dapat mempengaruhi bayi. Selama laktasi, banyak obat masuk ke dalam air susu  dan dapat mempengaruhi bayi.

Obat disampaikan ke reseptor melalui sistem sirkulasi dan mencapai target reseptor yang dipengaruhi oleh aliran darah dan konsentrasi jumlah darah di reseptor tersebut. Konsentrasi obat di suatu sel dipengaruhi oleh kemampuan obat berpenetrasi ke dalam kapiler endotelium (tergantung ikatan obat dengan protein plasma) dan difusi melalui membran sel. Distribusi obat di darah, organ dan sel tergantung dosis dan rute pemberian, lipid solubilin obat, kemampuan berikatan dari protein plasma dan jumlah aliran darah ke organ dan sel.

Senyawa yang terdapat pada sebuah sediaan obat, selain zat aktif yang digunakan untuk pengobatan, juga ada senyawa-senyawa yang membantu proses  distribusi zat aktif. Oleh sebab itu tidak dianjurkan kepada pasien atau tenaga medis merubah bentuk sediaan tanpa berkonsultasi dengan apoteker. Misalnya merubah tablet menjadi puyer, apabila dalam bentuk puyer ketersediaan hayati obat tersebut menjadi berkurang.

Metabolisme Obat

Metabolisme atau Biotransformasi ialah reaksi perubahan zat kimia dalam jaringan biologi yang dikatalisis oleh enzim menjadi metabolitnya. reaksi metabolisme obat sebagian besar terjadi pada organ hati, khususnya pada sub-seluler retikulum endoplasma. beberapa organ yang bertanggung jawab terhadap mekanisme metabolisme obat adalah hati, paru, ginjal, mukosa dan sel darah merah.
Fungsi utama dari metabolisme yaitu, 
(1) menyediakan energi bagi fungsi tubuh dan pemeliharaan, 
(2) memecah senyawa yang tercerna, misalnya katabolisme, menjadi senyawa yang lebih sederhana dan biosintesis molekul yang lebih kompleks misalnya anabolisme, biasanya memerlukan energi, 
(3) mengubah senyawa asing (obat) menjadi lebih polar, larut air dan terioniasi sehingga lebih mudah di ekskresi.

Metabolisme obat mempunyai 2 efek penting, yaitu:
  1. Obat menjadi lebih hidrofilik hal ini mempercepat ekskresinya melalui ginjal karena metabolit yang kurang larut lemak tidak mudah direabsorbsi dalam tubulus ginjal.
  2. Metabolit umumnya Kurang Aktif daripada obat asalnya. akan tetapi, tidak selalu seperti itu, terkadang metabolit sama aktifnya (atau lebih aktif) daripada obat asli. sebagai contoh, Diazepam dimetabolisme menjadi nordiazepam dan oxazepam, keduanya aktif. Prodrug bersifat inaktif sampai dimetabolisme dalam tubuh menjadi obat aktif.

Meskipun metabolit lebih larut dalam air tetapi ada pengecualian pada p-asam klorofenaseturat (metabolit p-asam klorofenilasetat). sering bahwa metabolit obat lebih diionisasi pada pH fisiologi daripada obatnya sehingga bentuk garam yang larut dalam air dapat menurunkan kelarutannya dalam lipid sehingga mudah untuk diekskresikan.

Proses metabolisme terbagi menjadi 2 fase, pada fase 1 atau disebut juga fase non sintetik atau reaksi fungsional yaitu fase dimana pengubahan senyawa lipofil menjadi senyawa yang mempunyai gugus fungsional dan lebih polar seperti OH, NH2 dan COOH. Oksidasi merupakan reaksi paling umum dan reaksi ini dikatalisis oleh suatu kelas enzim yang penting yang disebut oksidase dengan fungsi campuran (Sitokrom P-450). reaksi fase 1 yang lain adalah Reduksi dan Hidrolisis yang relatif jarang sekali terjadi.

Ekskresi Obat

Ekskresi obat adalah proses pengeluaran zat-zat sisa oleh hasil metabolisme obat yang suah tidak digunakan oleh tubuh.

Ekskresi Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 preoses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal.

Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat. 

Mekanisme Ekskresi Obat dan Tempat Terjadinya Ekskresi Obat
Organ terpenting untuk ekskresi obat ada ginjal. Obat diekskresi melalui ginjal dalam bentuk utuh maupun bentuk metabolitnya. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan cara eliminasi obat melalui ginjal. Ekskresi dalam bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan cara eliminasi obat melalu ginjal. Ekskresi melalui ginjal melibatkan 3 proses, yakni filrasi glomerulus, sekresi aktif ditubulus proksimal dan reabsorpsi pasif disepanjang tubulus. Fungsi ginjal mengalami kematangan pda usia 6-12 bulan, dn setelah dewasa menurun 1% pertahun.

Pada jalur ekskresi melalui ginjal, metabolit-metabolit obat diekskresikan melalui urine melalui mekanisme filtrasi glomerulus, sekresi tubular aktif, dan reabsorpsi tubular. Ginjal merupakan organ utama dalam proses ekskresi. Organ ini mengekskresikan senyawa dari sirkulasi sistemik atau dari darah guna mempertahankan miliu internal. Dalam ginjal terdapat unit fungsional terkecil yang disebut dengan Nefron. Nefron terdiri atas pembuluh proksimal, lengkung Henle, dan pembuluh distal, sedangkan bagian kapiler terdiri dari glomerulus yang terdapat dalam kapsula Bowmann.

Filtrasi glomerulus menghasilkan ultrafiltrat, yakni plasma minus protein, jadi semua obat bebas akan keluar dlam ultrafiltrat sedangkan yang terikat protein tetap tinggal dalam darah. Sekresi aktif ddari dalam darah ke lumen tubulus proksimal terjadi melalui transporter membran P-glikoprotein (P-gp) dan MPR (multidru-resistance protein) yang terdapat di membran sel epitel engan selektivitas berbeda, yakni MPR utuk anion organik dan konyugat (mis: penisilin, ptobenesid, glukuronat,  sulfat da konyugat glutation), dan P-gp untuk kation organik dan zat netral (mis: kuinidin, digoksin ). Dengan demikisn terjadi kompetisi antara asam-asam organik maupun antara basa-basa organik untuk disekresi. Hal ini dimanfaatkan untuk pengobatan gonorea dengan derivat fenisilin. Untuk memperpanjang kerjanya, ampisilin dosis tunggal diberikan bersama probenesid ( probenesid akan menghambat eksresi aktif ampisilin ditubulus ginjal karena berkompetisi untuk transporter membran yang sama MRP). 

Reabsorpsi pasif terjadi di sepanjang tubulus untuk bentuk nonion obat yang larut lemak. Oleh karena derajat ionisasi bergantung pada pH larutan, maka hal ini dimanfaatkan untuk mempercepat eksresi ginjal pada keracunan suatu obat asam atau obat basa. Obat asam yang relatif kuat (pKa ≤ 2) dan obat basa yang relatif kuat (pKa ≥ 12, mialnya gUanetidin) terionisasi sempurna pada pH ekstrim urin akiat asidifikasi dan alkalinisasi paksa (4,5- 7,5). Oat asam yang sangat lemah ( pKa > 8, fenitoin) dan obat basa yang sangat lemah (pKa ≤ 6, misalnya profeksipen ) tidak terionisasi sama sekali pada semua Ph urin. Hanya obat asam dengan pKa antara 3,0 dan 7,5 dan obat basa dengan pKa antara 6 dan 12, yang dapat dipengaruhi oleh Ph urin. Misalnya (asam pKa =72) atau salisilat (asam, pKa =3,0) deberikan NaHCO3 untuk membasakan uri agar ionisasi meningkat sehingga bentuk nonion yang akan direabsorpsi akan berkurang dan bentuk ion yang akan dieksresi meningkat. Demikian juga pada keracunan amfetamin (basa, pKa = 9,8) diberikan NH4Cl untuk meningkatkan eksresinya.

Di tubulus distal juga terdapat protein transporter yang berfungsi untuk reabsorpsi aktif dari lumen tubulus kembali ke dalam darah ( untuk obat-obat dan zat-zat endogen tertentu)

Ekskresi melalui ginjal akan berkurang jika terdapat gangguan fungsi ginjal. Lain hal nya dengan pengurangan fungsi hati yang tidak dapat dihitung, pengurangan fungsi ginjal dapat dihitung berdasarkan pengurangan klirens kreatinin. Dengan demikian, pengurangan dosis obat pada gangguan fungsi ginjal dapat dihitung.

Ekskresi obat yang kedua penting adalah melalui empedu kedalam usus dan keluar bersama fases. Transporter membran P-gp dan MRP terdapat di membran kanalikulus sel hati dan mensekresi katif obat-obat dan metabolit kedalam empedu dengan selektifitas berbeda, yakni MRP untuk anion organik dan konyugat (glukuronat dan konyugat lain), dan P-gp untuk kation organik, steroid, kolesteroldan garam empedu P-gp dan MRP jua terdapat di membran sel usus, maka sekresi langsung obat dan metaboit dari darah ke lumen usus juga terjadi.

Ekskresi melalui paru terutama untuk eliminasi gas anestetik umum. Ekskresi dalam ASI, salifa, keringat, dan air mata secara kuantitatif tidak penting. Ekskresi ini bergantung terutama pada difusi pasif dari bentuk nonion yang larut lemak melalui el epitel kelenjar dan pada pH. Ekskresi dalam ASI meskipun sedikit, penting artinya karena dapat menimbulkan efek samping pada bayi yang menyusu pada ibunya. ASI lebih asam daripada plasma, maka lebih banyak obat-obat basa dan lebih sedikit obat-obat asam terdapat dalam ASI daripada dalam plasma. Eskresi dalam salifa: kadar obat dalam salifa sama dengan kadar obat bebas dalam plasma, maka salifa dapat digunakanuntuk mengukur kadar obat jika sukar untuk memperoleh darah.

Cara Legalisir Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK)

Selamat Malam rekan sejawat asisten apoteker dimanapun anda berada, disini saya akan memberikan pengalaman pribadi mengenai Legalisir Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian (STRTTK) di Dinas Kesehatan (DinKes) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lokasi Dinkes Jogja

Dari arah Tugu Jogja lurus kebarat ada perempatan Jl. Magelang masih lurus. kemudian ada lagi rambu-rambu lalulintas lurus setelah jembatan belok ke kiri.

Persyaratan

- Fotocopy STRTTK
- Stopmap

Tata Cara

- Masuk ke Dinkes
- Mengisi daftar kunjungan
- Kemudian naik tangga sebelah kiri, belok kiri pintu ketiga

Catatan:

- Pakaian Rapi dan Sopan
- Menggunakan Sepatu
- Tidak mengenakan Kaos Oblong


Sekian dari saya, semoga bermanfaat. Mohon menjadi periksa.

Pengertian IUD (Intra Uterine Device) Post Plasenta

Pengertian

IUD post plasenta adalah IUD yang dipasang dalam waktu 10 menit setelah lepasnya plasenta pada persalinan pervaginam maupun persalinan dengan seksio sesarea (Saifuddin et al, 2006).
Dengan adanya teknik baru yaitu IUD Post Plasenta maka dapat memberikan harapan dan kesempatan bagi ibu yang tidak ingin hamil lagi. Bagi Indonesia dengan kesulitan hidup yang cukup tinggi (30% miskin), dan banyaknya unmet need (8,6%) maka teknologi ini perlu untuk ditawarkan kepada pasien post partum dengan cara memberikan konseling sebelum persalinan. Peningkatan penggunaan IUD Post Plasenta akan dapat mengurangi jumlah kehamilan yang tidak diinginkan dimasa depan, sehingga akan mengurangi angka kematian ibu di Indonesia (Saifuddin et al, 2006).

Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Menurut Saifuddin (2010), jenis-jenis Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) terdiri atas :
  1. Lippes Loop
    IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Contoh yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis ini.
  2. Copper- TIUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T yang baru. IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.
  3. Copper- 7IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.
  4. Multi LoadIUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 (tiga) ukuran multi load yaitu standar, small (kecil), dan mini.
Saifuddin (2006) menyatakan bahwa AKDR yang umumnya digunakan dalam pemasangan IUD Post Plasenta adalah AKDR jenis Cu-T khususnya AKDR CuT-380A yang dimasukkan ke dalam fundus uteri dalam 10 menit setelah plasenta lahir. AKDR CuT-380A adalah IUD berukuran kecil, terbuat dari kerangka plastik yang fleksibel berbahan polyethylene, berbentuk huruf T, pada batang dan tiap-tiap lengannya dibungkus dengan kawat tembaga halus (Cu) yang mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. Dalam setiap batang plastik “T” terdapat 176 mg kawat tembaga (Cu) pada bagian vertikal, dan 66,5 mg tembaga pada bagian horizontal. Total luas permukaan tembaga adalah 380 mm2. Jangka waktu penggunaan IUD Copper T 380 A adalah 10 tahun, dan setelah 10 tahun AKDR tersebut harus dilepaskan namun dapat pula dilepaskan lebih awal sesuai dengan keinginan pasien (Varney et al, 2006).

Cara Kerja Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

AKDR atau IUD Post Plasenta langsung bekerja secara efektif segera setelah pemasangan selesai. AKDR bekerja dengan cara menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilitas sebelum ovum mencapai kavum uteri. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu (AKDR membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi), dan memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus (Saifuddin et al, 2010).

Efektivitas

Sebagai alat kontrasepsi, AKDR atau IUD Post Plasenta memiliki tingkat efektivitas yang tinggi yaitu 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan). Ini dapat pula diartikan bahwa angka kegagalan IUD Post Plasenta 0,8 % dibandingkan dengan pemasangan setelahnya (Saifuddin et al, 2010).

Pemantauan

Menurut Saifuddin (2010), pemantauan kondisi AKDR Post Plasenta dilakukan pada :
  1. Pemantauan dapat dilakukan 4 sampai 6 minggu setelah pemasangan AKDR.
  2. Pemantauan kondisi AKDR dapat pula dilakukan bila terdapat keluhan (nyeri,perdarahan, demam, dan sebagainya).
  3. Benang AKDR harus diperiksa secara runtin selama bulan pertama penggunaan AKDR terutama setelah haid.
  4. Pemantauan juga harus dilakukan apabila benang AKDR tidak teraba, merasakan bagian yang keras dari AKDR, AKDR terlepas, keluar cairan yang mencurigakan dari vagina, serta adanya infeksi.
Terima Kasih, Semoga bermanfaat

Syarat Dasar Mendirikan Apotek

Suatu apotek baru dapat beroperasi setelah mendapat Surat Izin Apotek (SIA). Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat yang diberikan Menteri Kesehatan Republik Indonesia kepada Apoteker atau Apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana apotek untuk menyelenggarakan pelayanan apotek di suatu tempat tertentu. 

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MENKES/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratan-persyaratan apotek adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.
  2. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi.
  3. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi.

Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian sebuah apotek adalah :
  1. Tempat/Lokasi
    Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Persyaratan jarak minimum antar apotek tidak dipermasalahkan lagi, dengan mempertimbangkan segi pemerataan dan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, jumlah praktek dokter, sarana dan pelayanan kesehatan lain, sanitasi dan faktor lainnya.
  2. Bangunan
    Apotek harus mempunyai luas bangunan yang cukup dan memenuhi persyaratan teknis. Luas bangunan untuk standar apotek adalah minimal 4x15m2 (60m2) selebihnya dapat diperuntukan bagi ruang praktek dokter.(24) Sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsinya. 

Bangunan apotek sekurang-kurangnya terdiri dari :
  1. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien
  2. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi
  3. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi denganmeja dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien
  4. Ruang racikan.
  5. Keranjang sampah yang tersedia untuk staf maupun pasien
  6. Bangunan apotek harus dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, penerangan yang memadai, alat pemadam kebakaran, ventilasi dan sanitasi yang baik serta papan nama apotek.

Perlengkapan Apotek
Perlengkapan apotek yang harus dimiliki antara lain :
  1. Alat pembuatan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, mortir, alu dan lain-lain.
  2. Perlengkapan dan tempat penyimpanan alat perbekalan farmasi seperti lemari obat, lemari es dan lemari khusus untuk narkotika dan psikotropika.
  3. Wadah pengemas atau pembungkus dan etiket.
  4. Alat administrasi seperti blanko pesanan, salinan resep dan kuitansi.
  5. Buku standar yang diwajibkan dan kumpulan perundang-undangan yang berhubungan dengan apotek.

Tenaga Kerja/Personalia Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332/MENKES/SK/X/2002, personil apotek dapat terdiri dari :
  1. Apoteker Pengelola Apotek (APA), yaitu Apoteker yang telah memiliki Surat Izin Apotek (SIA)
  2. Apoteker Pendamping adalah Apoteker yang bekerja di Apotek di samping Apoteker Pengelola Apotek dan atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka Apotek.
  3. Apoteker Pengganti adalah apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apotek selama Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada ditempat lebih dari 3 (tiga bulan) secara terus-menerus, telah memiliki Surat Izin Kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek di Apotek lain.
  4. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker.

Sedangkan tenaga lainnya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di apotek terdiri dari :
  1. Juru resep adalah petugas yang membantu pekerjaan asisten apoteker, namun keberadaannya tidak harus ada, tergantung keperluan apotek itu sendiri.
  2. Kasir adalah orang yang bertugas menerima uang, mencatat penerimaan dan pengeluaran uang. 
  3. Pegawai tata usaha adalah petugas yang melaksanakan administrasi apotek dan membuat laporan pembelian, penjualan, penyimpanan dan keuangan apotek.

Sekian dan semoga bermanfaat.